Showing posts with label Soal Jawab Agama. Show all posts
Showing posts with label Soal Jawab Agama. Show all posts

Wednesday, 11 November 2015

HADIS-HADIS BERKENAAN SOLAT

1. Rasulullah SAW bersabda: "Solat berjemaah itu lebih afdhal (baik) daripada solat bersendirian dengan 27 darjat." (HR Bukhari dan Muslim)

2. Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang solat berjemaah kemudian duduk berzikir hingga terbit matahari kemudian solat 2 rakaat (sunat dhuha) maka ia akan mendapat pahala haji dan umrah yang sempurna." (HR Tirmidzi)

3. Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang berjalan untuk solat fardhu maka pahalanya seperti orang yang mengerjakan haji dan jika ia berjalan untuk solat sunat maka pahalanya seperti orang yang mengerjakan umrah sunat." (HR At-Tabrani)

4. Rasulullah SAW bersabda: "2 rakaat solat sunat fajar itu pahalanya lebih baik daripada dunia seisinya." (HR Muslim & Tirmidzi)

5. Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang solat sunat sebelum Asar 4 rakaat maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka." (HR At-Tabrani)

6. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya apabila seseorang hamba berdiri untuk solat maka diletakkan semua dosa-dosanya di atas kepala dan kedua bahunya. Setiap kali ia rukuk atau sujud akan berjatuhanlah dosa-dosanya itu." (HR At-Tabrani)

7. Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang tetap mengerjakan solat sunat sebelumdan selepas zohor sebanyak 4 rakaat maka Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka." (HR Abu Daud & Tirmidzi)

8. Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang berwuduk dengan sempurna maka keluarlah dosa dari tubuhnya sehingga dari bawah kukunya juga." (HR Muslim)

9. Rasulullah SAW bersabda: "Malaikat akan berdoa untuk kamu selama kamu masih berada didalam masjid dan melakukan solat dan selama kamu tidak berhadas. Berkata Malaikat "Ya Allah, ampunilah dia dan turunkanlah rahmatMu kepadanya." (HR Bukhari)

10. Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang solat Isyak berjemaah maka bagaikan bangun (beribadah) malam dan (pada esok paginya) ia mengerjakan solat Subuh secara berjemaah juga maka (pahalanya) bagaikan bangun semalaman (penuh)." (HR Muslim & Ahmad)

11. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila kamu rasa ada angin di dalam perutmu kemudian kamu ragu adakah ianya telah keluar atau belum, maka janganlah keluar dari solatmu sehingga jelas terdengar bunyi atau tercium baunya." (HR Muslim)


Tuesday, 29 September 2015

Makmum Membaca Al Fatihah di Belakang Imam

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge07N89UXY5tVLoxdEOPSMvLzg2c_mYQ64KKnZDCzP-M5tg7SB8zj_XPSshz1HzN6ihVwh5o_J27AV1gDnbmlvkJtatErRSqqIqzLTbgPMCeH0ZuPMFa7SPnjHzfFQIe81LoTfpgOoPtU/s1600/posisi+imam.jpg




Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
Membaca al Fatihah atau tidak bagi makmum di belakang imam, adalah masalah yang sering jadi perselisihan dan perdebatan, bahkan sampai-sampai sebagian ulama membuat tulisan tersendiri tentang hal ini. Perselisihan ini berasal dari pemahaman dalil. Ada dalil yang menegaskan harus membacanya dan ada dalil yang memerintahkan untuk membacanya. Di lain sisi, ada juga ayat atau berbagai hadits yang memerintahkan diam ketika imam membacanya. Dari sinilah terjadinya khilaf.
Dalil: Wajib Baca Al Fatihah di Belakang Imam
Dari ‘Ubadah b in Ash Shoomit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah”.[1]

Dari Abu Hurairah, haditsnya marfu’sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهْىَ خِدَاجٌ
Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan tidak membaca Al Fatihah di dalamnya, maka shalatnya itu kurang.” Perkataan ini diulang sampai tiga kali.[2]

Dalil: Wajib Diam Ketika Imam Membaca Al Fatihah
Berkebalikan dengan dalil di atas, ada beberapa dalil yang memerintahkan agar makmum diam ketika imam membaca surat karena bacaan imam dianggap sudah menjadi bacaan makmum.
Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’rof: 204)

Abu Hurairah berkata,
صَلَّى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِأَصْحَابِهِ صَلاَةً نَظُنُّ أَنَّهَا الصُّبْحُ فَقَالَ « هَلْ قَرَأَ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ ». قَالَ رَجُلٌ أَنَا. قَالَ « إِنِّى أَقُولُ مَا لِى أُنَازَعُ الْقُرْآنَ ».
Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama para sahabatnya yang kami mengira bahwa itu adalah shalat subuh. Beliau bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang membaca surat (di belakangku)?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya. ” Beliau lalu bersabda: “Kenapa aku ditandingi dalam membaca Al Qur`an?[3]
Dalil lainnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة
Barangsiapa yang shalat di belakang imam, bacaan imam menjadi bacaan untuknya.[4] Hadits ini dikritisi oleh para ulama.
Hadits lainnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّمَا الإِمَامُ – أَوْ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ – لِيُؤْتَمَّ بِهِ ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا ، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا
Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam ruku’, maka ruku’lah. Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamd’. Jika imam sujud, sujudlah.[5] Dalam riwayat Muslim pada hadits Abu Musa terdapat tambahan,

وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا
Jika imam membaca (Al Fatihah), maka diamlah.
Menempuh Jalan Kompromi (Menjama’)

Friday, 25 September 2015

bagi daging korban pada bukan Muslim

 


 

BICARA AGAMA

bagi daging korban pada bukan Muslim

SAYA tertarik dengan perbincangan ustaz berkenaan korban dan akikah minggu lalu. Bagaimanapun, saya masih ada beberapa persoalan dan memohon penjelasan ustaz.
1. Berkenaan daging korban, jika selepas diagih kepada fakir miskin dan juga para petugas masih ada bakinya, bolehkah ia diberi kepada orang bukan Islam?
2. Jika seorang fakir miskin itu menerima daging korban yang dikumpulkan agak banyak, contoh 4 @ 5 kilogram, bolehkah dia menjual sebahagian daripada daging itu termasuk kepada orang bukan Islam?
3. Bagaimana pula dengan kulit lembu korban, bolehkah ia dijual kepada pengusaha makanan atau pembuat kompang?

JAWAPAN:

Kebanyakan kita faham secara asas bahawa daging korban tidak boleh diberi kepada orang bukan Islam.
Pendirian ini memang berasas, asasnya para alim ulama kita berpandangan dengan pendapat Imam al-Syafie yang tidak membenarkan daging korban diberikan kepada orang bukan Islam, sama ada daging korban sunat mahupun daging korban nazar.
Ini kerana ibadah korban adalah perbuatan taqarrub kepada Allah SWT yang dikategorikan ibadah semata-mata, ibadah ini berkaitan dengan menyembelih binatang ternakan. Orang Islam sahaja yang berhak kepada daging korban tersebut. Serta manfaat daging itu hanya kebali kepada orang Islam sahaja.
Pandangan ini adalah berdasarkan kepada pembahagian daging mentah bukan daging yang sudah dimasak.


Sunday, 6 September 2015

Hurun ‘In (Bidadari Bermata Jeli)


Ustad kenapa gak ada penjelasan tentang حور عين di surat al insan?

Dari Arif Dwinata via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Mendapatkan ridha Allah dan bisa masuk surga adalah cita-cita terindah semua mukmin. Kenikmatan puncak yang belum pernah terbayang dalam batin manusia. Di surga, mereka bisa mendapatkan apapun yang menyenangkan jiwanya. Allah berfirman,
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
Di dalam surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kalian memperoleh apa yang kamu minta (QS. Fushilat: 31).
Diantaranya adalah kenikmatan memiliki pasangan. Baik lelaki mapun wanita. Allah jadikan setiap manusia di surga, tidak ada yang melajang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
“Tidak ada orang yang melajang di surga.” (HR. Ahmad 7152 dan Muslim 2834).
Karena sesungguhnya bagian dari kesempurnaan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah menikah dan melakukan hubungan badan.
Allah menjanjikan, bahwa di surga para mukmin akan menikah dengan Hurun ‘In.
Allah berfirman,
وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.. (QS. al-Waqiah: 22-23).
Apa itu Hurun ‘In?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...